Beranda

Kamis, 17 November 2011

Olahan Lele Kreatif Dari Kampung Lele (Boyolali)


Ikan lele memang menjadi primadona dalam duniabudidaya ikan, permintaan pasar ikan lele selalu tidak pernah sepi. Seiring dengan itu inovasi olahan ikan lele semakin bervariasi. Beragamnya inovasiolahan makanan dari ikan lele semakin menambah jumlah permintaan pasar ikan lele. Sehingga bisnis ikan lele semakin menggairahkan . Diantara olahan ikan lele adalah abon ikan lele dan keripik ikan lele. 
Olahan keripik dan abon ikan lele inilah yang menjadi andalan kawasan Minapolitan Kabupaten Boyolali Jawa Tengah.
Boyolali memang telah dikenal sebagai kawasan penghasil ikan lele yang besar di Jawa Tengah. Kota-kota di sekitarnya seperti Semarang, Solo, Salatiga dan Yogyakarta mendapat pasokan ikan lele dari Boyolali.
Produksi ikan lele yang besar ini mendorong munculnya inovasi pengolahan lele yang dilakukan oleh beberapa Usaha Kecil Dan Menengah (UKM). Ikan Lele di Boyolali diolah menjadi abon lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele.
Beberapa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang menggeluti olahan ikan lele antara lain UKM Alang – Alang dan Wanita Mina Utama di Desa Mangkubumen Kec. Tegalrejo Sawit, Boyolali. UKM Alang -Alang mengolah 300 kg lele segar per minggu menjadi 100 kg abon lele, 100 kg keripik kulit dan sirip lele. Sementara UKM Wanita Mina Utama dari 500 kg lele segar per bulan menjadi 150 kg abon lele, 40 kg keripik kulit lele, 20 kgkeripik sirip lele.
Membuat inovasi olahan makanan dari ikan lele ini akan memberikan nilai tambah bagi produk ikan lele. Lele yang hanya digoreng nilai tambahnya rendah dan segmen pasarnya terbatas. Sedangkan jika diolah menjadi bentuk lain akan memberikan nilai tambah dan jangkauan pasar menjadi lebih luas.
Nilai tambah dari ikan lele inilah yang secara serius digarap oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali. Jika saat ini orang mencari olahan ikan kakap identik dengan Sidoarjo, pindang presto ke Pati maka kalau cari olahan lele ya ke Boyolali. Inilah yang menjadi konsen Boyolali untuk mewujudkan one village one product (OVOP).

1 komentar: